Wednesday, April 25, 2007

Have a sip, please.


'cling....cling'
The steady clinging of spoon against the china, rhymes through the room, over the steam of dark, hot espresso.

The steam brought a familiar fragrant into the air...the fragrant of warmth, intimacy, and also the fragrant of a far away land.

“Why do espresso cups have to be so small?” grumbled Jill while maneuvering the tiny hot cups among her not so slim fingers.

A low chuckle escaped Megan’s lips. She relaxed and slowly stretched her back to touch the comfy backrest of the rattan sofa. “Well, don’t pretend that you can handle the content of that tiny cup, Girl…” she remarked, knowing that though the fragrant of coffee is always provocative, some people are simply not meant to sip it freely. And Jill, unfortunately, is one of them.

“Ya…ya….you’re just happy coz you can soon refill your cup.”
“C’mon, making espresso means putting in just enough powder and water for two cups. And you know, I did not force you to share it with me,” a gleam of mischief shot through Megan’s friendly eyes.
“Hum…” Silence followed as Jill sipped her espresso.

Megan still stirred hers, half distracted, absentmindedly, while the fragrant simply wrapped around her.

“Meg, this is a new kind of coffee you are using?” Jill asked.
“Mm? Coffee? Oh yeah. Tried to put Gayo coffee inside. How does it taste?”
“Well, I don’t really know the difference. Just noticed that it’s somewhat different.”

“Hm…” sipping her own espresso, Megan tried to trace back some taste. Well, she’s also no expert in coffees, so what tastes good for her, simply tastes good.
“Gayo coffee? Hm…that reminds me of something…How’s life in Aceh?” Jill sat back and took a good look at her friend. Long time friend.
Megan looked back, a streak of amusement went through her light brown eyes. “What d’you want to know?” asked her, tentatively.
“Ah, you know… How is life there…the place…the people, the work…”

Pieces of fragments and pictures ran in Megan’s mind. There was a part of her that really wanted to get away from her part of life far, far away from home. There was a part of her, knowing, that she could never escape it.

Of course people back home are curious. Of course she could not escape news and publicity around Aceh that went through the rest of the nation. Well, even if it had not been Aceh, there’s no point of trying to avoid the fact that through separated by sea and islands…that’s her life, too.

“You know that the sunsets are breathtaking,” she winked. The other side of the conversation only gave away a faint, “hmm…” as if saying, ‘yes...so what…tell me the real thing…’

“The landscape special, the work, heavy…the people…hm….quite special…”

“You simply don’t want to discuss it, huh?”

“You know, these issues have always made me think and think and think…so for now…I simply don’t want to trigger myself into thinking…you know…”
“Uh-huh…”

“Have a sip…This is good coffee.”
“Have a sip. This is good life.”

Startled, Megan looked up. She found in her friend’s eyes a sense of understanding…. Oh yeah, she’s much more than curious. But yeah, she understood. A small giggle rang through the room, as ‘cling…’ the girls pretended to make a toast with their tiny winy espresso cups…halfway empty.

“Yeah, just have a sip….”

ah, Mama.....

"Ma..."
"Eh, Temi....Sudah makan?" Mama mendongak dari koran yang sedang dibacanya. Diperbaikinya letak kacamata yang sedikit miring karena buru-buru menjawab sapaan Temi.
"Hmm...belum, Ma. Hari ini masak apa, Ma?"
"Biasa....a...."
"Pasti ayam goreng lagi ya, Ma?", sahut Temi sambil terkikik geli, menggoda Mama...sebenarnya bukan mama-nya...tapi apa salahnya memanggil beliau dengan panggilan yang biasa di rumah mungil yang, sayangnya, sering kebanjiran itu.... Apalagi karena ga ada orang lain di dunia Temi yang harus merasa cemburu karena ada perempuan yang dipanggilnya Mama.
"Kamu kan tahu masmu...sukanya ayam goreng dan ayam goreng lagi."
"Ga papa kok Ma. Temi juga suka ayam goreng...tapi masih keringetan nih, Ma...Minum dulu aja ah...makannya nanti aja ya. Mama udah makan?"
"Udah kok, kelamaan kalau nunggu semuanya datang."

Hening sejenak ketika Temi meletakkan pantatnya di atas sofa tua dengan warna merah tua yang mulai memudar karena usia dan guna. Dicondongkannya badan ke sudut ruangan, menjangkau kipas angin yang berputar malas-malasan, mencoba mengaturnya supaya sedikit banyak menyembur jugalah angin ke arahnya.

"Gimana kerjaan, Tem?" Mama memecah keheningan.
"Baik, Ma. Selalu ada banyak kerjaan, tapi semuanya menarik kok. Jadi meskipun capek, Temi senang juga, selalu ada hal baru yang bisa dipelajari."
"Ah, kamu sepertinya selalu begitu...," Mama tersenyum simpul.
"Tapi memang bagus kalau terus bersemangat, apalagi kamu masih cukup muda. Mama dulu waktu masih muda juga senang bekerja dan bergaul, sayang ga sempat selesai kuliah karena keburu menikah sama bapaknya anak-anak..." mata Mama berkilat dengan sekilas semangat dan kenangannya.
"Mama kan masih tetap aktif bergaul dan berkarya to, Ma, meskipun bukan komersial. Temi senang ngeliatnya..."

Mata Temi menelusuri sudut dan detil ruangan yang sejalan waktu menjadi begitu dekat dan begitu asing untuknya. TV mungil di sudut ruangan, yang baru-baru ini mendapatkan teman baru seperangkat Hi-Fi, dengan speaker yang cukup menggelegar. Pot-pot mungil yang masih berjejer di sekitar sumur di depan rumah, terlihat samar bergoyang tertiup angin dari balik jendela kaca tempatnya menebarkan pandang. Mainan angin dari kayu yang dibelinya di Bali waktu itu, ah ya, dua tahun yang lalu (ingat betul dia karena pertama kalinya dia mampir ke Bali adalah waktu ada tsunami di Aceh....), masih tergantung juga, terayun-ayun dipermainkan angin di atas ambang pintu.

"Tem, sudah ada rencana menikah?"
Temi terhenyak.
Setengah karena dibangunkan dari kenangan yang menyusupi benaknya sembari menelusuri sudut rumah itu, setengah karena dia tak tahu bagaimana caranya membahas topik yang satu ini.

"Mmm...gimana ya Ma..."
"Terus terang saja...jangan merasa ga enak atau apa... Mama dengar pacarmu yang sekarang sudah sangat cukup umur dan mapan, bener Tem?"
"Ah, Mama... Apa sih ukuran cukup umur dan mapan itu Ma?" elak Temi pelan.
"Sudahlah, Mama cuma pengen tahu aja...Kalau kamu keberatan, jangan dipaksakan..." kata Mama, sambil mengalihkan pandangan. Dalam hatinya, dia tahu bahwa gadis muda di hadapannya mulai merasa tak nyaman.

Temi menghela nafas pendek. Sambil mencoba bercanda, dia menjawab,"Ma, kalau Temi mau buru-buru nikah, Temi pasti sudah jadi menantu Mama...hehe...." Tawa yang bergema kosong dalam hatinya, dan sesaat dia berharap Mama tidak bisa mendengar kepalsuan itu.
"Iya...ya..." Mama tersenyum juga. "Atau jangan-jangan gara-gara diburu-buru, kamu kabur, Tem?" senyum Mama melebar, tapi matanya tetap tajam, bertanya.

'Duh...' dalam hati Temi berbisik,'ini dia...'

"Ma...Temi mau jujur ya sama Mama... Sebenarnya, iya juga sih, Ma. Temi mengerti mas Deni sudah merasa mantap sama Temi, dan awalnya Temi juga merasa, apa lagi sih yang Temi cari. Dalam hidup Temi, dan dalam laki-laki yang akan mendampingi Temi nanti. Temi sayang sama mas Deni, Ma, dan selama pacaran, Temi pikir Temi dan mas Deni sama-sama saling baik dan sayang... tapi waktu Temi memandang mas Deni sebagai calon orang yang selamanya akan hidup bersama Temi, menjadi bapak dari anak-anak kami...Temi ragu, Ma. Bukan berarti mas Deni bukan orang baik, bukan berarti mas Deni karirnya kurang keren...bukan berarti saya merasa saya bisa menghasilkan lebih banyak uang, atau karir saya lebih bagus, bukan Ma...."

Temi mengambil nafas sejenak. Dadanya terasa sesak, namun dia tahu sudah saatnya untuk mengatakan semuanya...atau minimal, hal-hal yang penting saja. Untuk meminta maaf dan berterima kasih...

"Maaf ya Ma. Temi sudah mengecewakan mas Deni, anak Mama, dan Mama, dan seluruh keluarga Mama...Tapi Temi mau jujur, Ma, karena kalau salah satu di antara kami tidak bahagia, ikatan apapun itu tidak akan bisa mengubahnya...Maaf ya Ma..."

Mama menghela nafas panjang.
"Temi, Deni marah sekali, dan sangat sakit hati. Tapi dari pertama melihatmu, Mama percaya semua yang dia katakan tentang kamu dalam kemarahannya itu tidak betul. Dan Mama percaya..ah, setidaknya Mama berharap, suatu hari nanti dia juga akan melihat, dimana kelebihan dan kekurangan kalian masing-masing, dan menerima bahwa jika kalian tidak berjodoh, tidak ada yang bisa dilakukan."

"Ma....saya tidak berharap mas Deni memaafkan Temi. Tapi, meskipun tidak mungkin, Temi berharap mas Deni belajar juga dari hubungan kami, seperti Temi juga banyak belajar tentang orang lain dan tentang Temi sendiri. Dan Temi berharap suatu hari nanti mas Deni tidak lagi menuduh Temi tidak setia, matre...dan semua tuduhan lain yang menyakitkan hati. Karena meskipun mas Deni sudah bukan pacar Temi lagi, kata-kata dan prasangka mas Deni masih sangat menyengat."

"Maafkan anak Mama ya, Tem," Mama menatap mata Temi, tulus. "Itu hanya karena dia merasa tak berdaya dan sangat sakit hati..."
"Temi mengerti kok, Ma. Apalagi kalau melihat pacar Temi yang sekarang, mungkin mas Deni merasa menemukan pembenaran atas semua prasangkanya. Tapi Temi berharap bahwa setidaknya dari waktu pendek kita bersama, suatu hari nanti mas Deni, dan Mama, bisa melihat bahwa Temi bukan orang yang seperti itu..."
"Temi, hidup kamu adalah hidupmu sendiri. Mama mengerti perempuan seperti kamu pasti tidak akan 'tunduk' begitu saja. Mama sedih kalian tidak bisa bersatu...tapi apa boleh buat...ya kan?"

"Tapi Ma, kalau soal camer, Mama camer favorit Temi lho," kata Temi sambil tertawa kecil, mencoba mencerahkan suasana yang terlanjur melankolis.
Mama tergelak kecil,"Ah, masa...? Bagus deh...Memangnya sudah ketemu sama camer yang ini?"
"Ya belum Ma, jauh banget rumahnya... Tapi takutnya kendala bahasa jadi masalah ni Ma."
"Walah, takut? Kayaknya kamu ga cocok banget bicara itu. Pertama kali ketemu Mama juga kamu ga ada kesan takut sedikit pun.. Pede aja lagi. "
"Ah Mama....."
"Hahaha...."
"Hehehe...."

Banda Aceh, 25 April 2007.

Thursday, April 12, 2007

and the pumpkin princess sets out in her journey.....

Once upon a time….. a knight asked a princess,

"My fair lady, would you like to spend the evening with me? Strolling around the enchanted forest and seeping in the cool breeze of the night?"

"Oh, Charming Knight, with pleasure….but please bear in mind that under this magic spell I would need to return before nine…."

"Nine? But, Fair Lady, that is far too early… And may this humble knight enquire why does it have to be so?"

"Well, you know, Dear Knight, how magic spells go…and by the struck of the nine o'clock bell…I will turn into…"

"Rags?"

"Nope, I'm the pumpkin…. I will turn back into the plump round orange pumpkin…."

"Oh…that is interesting…"

And yet the twist is no fairy tales…and lots of everyday tales simply happen.

Fiction, non-fiction, semi-fiction…

And though nobody gets to live happily ever after, well, nobody lives ever after anyway…they live and keep on living…

And what a life!

What a life it is to be able to reflect, and recreate, and discover adventures….

Without dragons, and castles, and princes, and princesses, and knights in shining armor,

And yet as intriguing and challenging and enchanting as any fairy tale could go…

And it is a world on its own, the crossing between life experience and imagination.

And so, let the pumpkin princess starts her journey…